Novel  ➡ Film = Kekecewaan?

Entah sudah berapa kali saya mendengar cerita kekecewaan teman yang sudah nonton film yang diangkat dari novel. Kebanyakan dari mereka berpendapat kalo ada bagian dari sebuah novel dapat membuat para pembacanya terbawa emosi, namun saat di visualisasikan ke dalam film justru bagian tersebut tidak menarik atau bahkan tidak di tampilkan.

Tapi, saya yang dulunya cuma suka baca komik, kalo diajak nonton film yang diadaptasi dari novel merasa jakan cerita dalam film itu baik-baik saja (yaiyalah Nan, kan kamu langsung nonton filmnya gak baca novelnya dulu) *kemudian dijitak.

Penasaran dengan apa yang dialami teman-teman, saya membongkar tumpukan buku di kamar. Tidak butuh waktu lama, saya akhirnya menemukan buku ketujuh dari Ika Natassa yang sudah saya baca akhir tahun lalu.

Awal bulan Mei ini, buku dari Ika Natassa ini akan ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia. Dengan judul yang sama, yaitu Critical Eleven. Karena penasaran dengan pengalaman teman-teman yang kebanyakan kecewa dengan film yang diadopsi dari novel, maka saya mencoba membaca ulang novel ini untuk mengingat kembali jalan ceritanya sebelum menyaksikannya dalam bentuk film.

Entah sejak kapan bacaan saya beralih dari komik ke novel. Awalnya sih, selain komik, saya senang membaca buku yang bergenre humor. Namun, makin kesini saya makin tertarik dengan bacaan di luar genre humor (undang-undang dan buku hukum gak termasuk yah 😑). Apa lagi setelah baca buku karangan Ika Natassa ini. Cara Ika (sok akrab lo Nan 😅) menggambarkan peran dari setiap karakternya menurut saya sangat unik karena, Ika menggambarkan konflik yang dibuatnya dari sudut pandang masing-masing karakternya.

Semoga filmnya semenarik novelnya dan tidak mengecewakan para penggemar Ale dan Anya. Hahahaha

Iklan

Lie

Semua orang di dunia ini pasti pernah berbohong dan di bohongi. Meskipun kita sudah tahu kalau bohong itu salah satu perbuatan dosa. Dalam setiap agama pasti melarang untuk tidak berbohong, termasuk Islam.

Tapi, tahukah kalian jika ada kebohongan yang dibolehkan? Berikut adalah kebohongan yang dibolehkan versi on the spot. *kemudian di lempar tv*

Ok, yang akan saya bahas disini bukan kebohongan yang dibolehkan, melainkan awal mula saya mengenal kebohongan.

Yang pertama, baca Qura’an dan maknanya *cie yang baca sambil nyanyi*

Yang pertama, pernah gak waktu kecil kalian mau makan es krim atau permen trus di larang sama orang tua? Katanya obatlah, pahitlah, dan berbagai alasan lainnya. Kalo pernah, berarti kita sama. Tapi yang membuat saya heran, kenapa kalo giliran mau minum obat betulan saya malah di paksa-paksa? Padahalkan orang tua sudah tau kalo obat itu pahit,tapi kenapa juga masih maksa anaknya buat minum? Bahkan anaknya dipegang erat-erat biar gak banyak goyang kaya main smack down.

Yang kedua, sholat malam dirikanlah *cie cie bacanya masih sambil nyanyi*

Yang kedua, pernah gak kalian sama orang tua kalian lagi jalan-jalan ke super market, trus tiba-tiba kamu lihat mainan dan minta untuk dibelikan, tapi orang tua kalian malah bilang “rusak itu mainannya”? padahal logikanya, kalo barangnya rusak buat apa dipajang di etalase? Iya kan? Untungnya waktu itu saya belum mengenal logika.

Kebohongan pertama dan kedua di atas sih tujuannya baik, tapi yang namanya bohong tetap aja bohong. Nah, kebohongan yang ketiga ini yang menurut saya gak ada kebaikannya sama sekali. Sebagai anak, saya merasa cuma di jadikan “sebagai alat“.

Pernah gak saat lagi di rumah, tiba-tiba ada orang yang datang bertamu ke rumah, trus orang tau kalian minta kamu menemui tamu tersebut dan mengatakan “kalo tamunya nyari ayah/ibu, bilang ayah/ibu lagi gak di rumah?” padahal ayah/ibu kalian lagi baring-baring di kamar atau lagi nonton tv. Kalian juga pasti pernah di suruh terima telpon rumah terus ayah/ibu kalian suruh bilang “kalo orang yang telpon cari ayah/ibu, bilang ayah/ibu lagi gak di rumah”. Ini yang saya maksud sebagai alat, “alat kebohongan”. Untungnya waktu itu otak saya masih sebesar toge, kalo agak besaran dikit pasti saya bakal bilang ke tamu atau yang nelpon “kata ayah/ibu, kalo tamunya atau yang telpon cari ayah/ibu bilang ayah/ibu lagi gak di rumah”. Kalo hal tersebut saya lakukan, yakin dan percayalah ikat pinggang bakal nempel di kaki hahaha.

Dari ketiga kejadian di atas, dapat saya simpulkan bahwa yang mengajar saya untuk berbohong adalah orang tua saya sendiri. Dan hal itu baru saya sadari saat saya beranjak besar. :))

Jadi, apakah kalian pernah mengalami apa yang saya alami di atas?

Pulang & Hujan di Sore Hari

Pulang…
Hal yang selalu menyenangkan untukku.
Kembali ke rumah, melepas lelah setelah seharian beraktifitas.
Menikmati hujan di sore hari bersama secangkir kopi.
Yah, itulah dua hal yang sangat menyenangkan.

Tapi, entah kenapa saya merasakan pulang dan hujan di sore hari tak lagi menyenangkan seperti dulu.
Rasanya ada sesuatu yang hilang dan saya tidak tahu apa itu.

Semoga hanya perasaanku.

Berbahagialah Kalian Yang Memiliki Saudara

“Menjengkelkannya adekku!!”
“Baiknya kakakku dia traktir ka makan”

Kurang lebih itulah cerita yang sering saya dengar dari orang-orang yang memiliki saudara. Senang rasanya mendengar orang-orang menceritakan masa kecil bersama saudaranya. Mereka bercerita tentang kebersamaan menghabiskan liburan hingga bercerita hal-hal yang membuat mereka berkelahi.

Terkadang saya merasa iri dengan orang-orang yang memiliki saudara. Mereka dapat berbagi cerita saat berada dirumah, saling membela satu sama lain di depan orang tua jika saudaranya melakukan kesalahan, berselisih paham karena hal-hal kecil, hingga pertengkaran yang kadang berakhir dengan adu fisik.

Namun, sejengkel atau sebenci  apapun kalian dengan saudara sendiri, pasti akan merasa rindu bila tidak bertemu. Sayangilah saudara kalian karena masih ada  orang di luar sana yang tidak seberuntung kalian.

Berbahagialah kalian yang memiliki saudara.

Hujan

Kutipan

Kehadiranku selalu memberikan kesejukan dan ketenangan.

Memberi kehidupan bagi alam ini.

Namun, ada juga yang menganggapku penghalang mereka untuk melakukan kegiatannya.

Tapi itu mungkin karena mereka tidak tahu cara mensykuri kediranku.

Bahkan terkadang saya dianggap sebagai penyebab genangan sana sini.

Apakah mereka sadar bahwa itu ulah dari mereka sendiri?

Hmm…

Inilah suka duka ku menjadi hujan.

Ada yang mengharapkan ada pula yang tidak mengharapkanku.

Bagi mereka yang mengharapkanku, mereka akan bertemu pelangi yang selalu memberikan keindahannya.

keindahan yang diperoleh dari kesetian dan kesabarannya menungguku pergi.

Harap Maklum

Akhirnya niat ini terealisasikan juga 😀

Setelah duduk dan berpikir berjam-jam di depan laptop, akhirnya cuma ini yang bisa saya tulis. Jujur saya masih bingung kalo di suruh nulis. Padahal kalo di pikir-pikir nulis itu gampang,tinggal duduk di depan laptop, terus ketik deh semua yang ada di kepala (rambut,mata,hidung,mulut,telinga,alis),gampangkan…???

Buat yang membaca postingan ini harap maklum,saya masih pemula,jadi harap bimbingan dan bantuannya (terserah mau bantuan doa,sembako,uang juga boleh hehe ) dari teman-teman 😀